Asisten Lab dan Etika Profesi

Posted: June 23, 2011 in Informatika

Teknik informatika, merupakan salah satu jurusan di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang memiliki sistem pembelajaran “sedikit” berbeda dengan jurusan lainnya, yang salah satunya yaitu dengan adanya praktikum di laboratorium. Seperti halnya jurusan teknik informatika di universitas lainnya, praktikum di jurusan TI UIN Malang merupakan suatu keharusan bagi tapi mahasiswa untuk dapat menyelesaikan pendidikannya demi mendapatkan gelar sarjana strata satu.

Program studi yang berada dibawah naungan fakultas Sains dan Teknologi ini dalam melaksanakan praktikum tak pernah lepas dari perekrutan asisten lab atau yang biasa disebut aslab yang nantinya akan menemani praktikan (istilah bagi mahasiswa yang melakukan praktikum) di laboratorium sehingga praktikan apabila mengalami kesulitan bisa menanyakan kepada aslab-nya. Dalam perekrutannya sendiri, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipatuhi oleh calon aslab sehingga tidak sembarangan orang bisa menjadi partner praktikan diantaranya nilai mata kuliah dan praktikum yang akan di aslabi minimal B.

Seorang aslab bisa dikatakan berprofesi, meskipun tidak seperti layaknya orang yang masuk di dunia kerja yang sesungguhnya. Sedangkan pada prakteknya dilapangan, setiap profesi pasti memiliki etika yang harus dipatuhi oleh orang yang berkecipung di dalamnya. Aslab yang berada di bawah naungan laboran (istilah untuk penanggung jawab lab) dalam menjalankan tugasnya perlu mengikuti peraturan[1] yang ada di lab itu sendiri. Tak lepas dari tanggung jawabnya, seorang asisten lab juga harus profesional dan objektif terhadap teman-teman praktikannya, seperti halnya profesi lain yang memang dituntut untuk profesional sehingga apa yang ia kerjakan mampu ia pertanggung jawabkan nantinya.

Sebenarnya apa sih yang diharapkan seseorang sehingga mereka berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri menjadi seorang asisten? Uang vakasi-kah yang mereka harapkan setiap akhir periode yang padahal jumlahnya bisa didapat beberapa kali lipat apabila ia duduk diam di depan monitor untuk coding atau blogging, atau sertifikat asisten lab yang mungkin tak lebih berharga daripada selembar kertas dengan tanda tangan dan stempel di bawahnya? berdasarkan pengakuan salah satu asisten lab, mengapa ia sampai rela menghabiskan waktunya di lab, demi teman-teman praktikan padahal banyak tugas yang harus ia kerjakan yaitu sebagai pengalaman dan penambah ilmu. Pengalaman yang dimiliki seorang asisten lab, terutama yang ia paham benar kewajibannya dalam mengemban tugasnya dan selalu menjaga etika dalam menjalankan profesionalitasnya tak bisa dibayar dengan sejumlah materi tentunya. Banyak ilmu yang tak ia peroleh di bangku kuliahnya dari kegiatannya menjadi seorang asisten lab sehingga ia rela jam istirahatnya ia korbankan demi praktikan.

Sebagai contoh asisten untuk praktikum komunikasi data (periode 2011) dengan jumlah 14 orang yang bertempat di laboratorium jaringan, mereka berusaha menjaga etika dalam melaksanakan tugasnya dengan hadir di jadwal yang telah ditetapkan dan tepat waktu sehingga bisa dikatakan mereka profesional dalam mengemban amanah. Tak hanya itu, kewajibannya dalam menyampaikan materi praktikum menuntut mereka untuk selalu berusaha mempelajari hal baru sehingga jika ada praktikan yang mengajukan pertanyaan sebisa mungkin mereka menjawabnya.(zdf).


[1] Etika adalah tingkah laku sebagai standart yang mengatur pergaulan manusia dalam kelompok sosial, Marten (1993).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s