Rindu

Posted: August 20, 2015 in Buku
Tags: , , ,

Berada di tanah rantau tanpa ada seorangpun sanak famili memang menyedihkan. Tak ada yang bisa diajak ngobrol, berkeluh kesah bahkan hanya untuk keluar beli cemilan. IYa sendirian apa-apa dan kemana-mana. Mau gimana lagi. Untuk mengusir kebosanan akhirnya kuputuskan untuk membeli novel (lagi). Padahal udah diperingatkan oleh ibu untuk tidak lagi-lagi membeli novel. Mending buat daripada beli, kata beliay. Tapi terkendala laptop lagi error pula jadi gak ada media buat ngetik ide dan inspirasi kan? halah alasan, hahaha…..

Jadi ceritanya kemarin jalan-jalan keluar dan tiba-tiba terbesit keinginan untuk membeli bacaan, tentu saja untuk mengusir kebosanan akibat kesendirian yang berkepanjangan, jiahhh,,, lebay bener aku😀 Setelah memilah dan memilih, pergi ke goa untuk mencari wangsit ditambah meminta pertimbangan ke mbah dukun akhirnya kuputuskan untuk membeli dua buah novel yang berjudul Rindu karangan Tere Liye dan satunya Tahajud Cinta di Kota Newyork. Udah kebiasaan kalau beli novel cuma dilihat dari ketebalan, tanpa membaca sinopsis singkat dibelakang. Kalau di gramed sih melihat sisi belakang novel selain membaca sinopsis juga melihat harganya, hakhakhak.

Novel_RinduSepulangnya ke kos tanpa berganti pakaian dulu langsung saja novel Rindu ini menarik perhatianku untuk dibuka plastik bungkusnya. Entah, sepertinya tangannya melambai-lambai, hwehehehe…. Halaman pertama kita akan disuguhkan kepada latar di jaman sebelum kemerdekaan yang dibawakan dengan sangat apik (iyalah, bang Darwis kapan sih ceritanya gak mengalir :v ). Terdapat tokoh utama seorang yang sedang kebingungan. Ya, bingung akan jalan hidup seorang anak muda bernama Ambo Uleng. Sepertinya dia sedang depresi berat. Ingin lari dari tanah Bugis. Adalah kapal Blitar Holland, kapal tenaga uap yang sangat megah di jamannya yang mengarungi samudera dengan tujuan dari Makassar ke Rotterdam dan mampir ke Mekkah untuk mengantarkan jamaah haji Indonesia. Ambo Uleng mendaftarkan diri menjadi kelasi di kapal uap tersebut. Pembawaannya yang penuh misterius membuat Kapiten Philips, kepala kemudi kapal ini merekrutnya.

Anna dan Elsa, jika kita mengingat kisah frozen maka kita akan mengingat mereka dengan dua kakak-beradik yang cantik dan rukun. Disini mereka berdua malah diceritakan menjadi kakak-beradik yang saling usil, menggoda tapi saling menyayangi sih. Daeng Andipati ayah mereka beserta ibu dan seorang pembantu adalah salah satu rombongan yang akan ikut dalam kapal Blitar Holland tentu saja dalam rangka perjalanan haji. Ada pula seorang ulama tersohor yang biasa dipanggil dengan sebutan Gurutta, sangat ditakuti para penjajah. Selain itu ada juga sepasang eyang kakung dan eyang putri dengan kisah cinta yang sangat menyentuh hingga kematian menjemput mereka selama perjalanan haji.

Sejumlah penokohan dengan satu atap, kapal Blitar Holland disajikan dengan bervariasi cerita dari masing-masing mereka tetapi berakhir dengan keterkejutan. Sungguh aku gak bisa nebak akhirnya. Selama membaca gak ada putus-putusnya, sayang buat ditinggal. Jadi teruuuuus aja baca. Nangis iya, ngakak juga iya. Yang jelas gak rugi deh membaca novel satu ini. Kita akan dibuat berada di dalam kapal juga, detail banget jelasinnya mulai kabin, dapur, musholla hingga ruang kemudi kapal. Belum lagi penjara didekat dengan ruang tungku uap. Ah….. andai jaman sekarang masih ada.

Seneng itu saat Anna menyaksikan ikan lumba-lumba dan paus biru. Duh jadi pengen banget ke Lampung untuk bisa memandang lumba-lumba di sana…… Semoga nanti kesampaian deh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s