Archive for the ‘Wisata’ Category

Binun mau ngapain, mamas pas mudik dan sepertinya sibuk. Jadi saatnya untuk merusuh di lapak lama. Awalnya bingung mau cerita apa, tapi gara-gara buka folder foto di hdd akhirnya kepikiran untuk menuliskan review makanan. Biar ngehits gituuuu. Selama tinggal disini kan belum pernah tuh cerita-cerita tentang makanan sini.

Emmm…. sepertinya bukan makanan yang sedang tenar macam rendang ataupun nasi padang seperti lagunya orang rusia yang lagi kondang itu sih. Tapi makanan yang mau kureview ini namanya “PICAL”. Yeah, di Jawa mungkin dikenal dengan sebutan pecel. Sebelas limabelas sih kalo dibandingin, maksudnya serupa tapi tak sama gitu.

Kalo disuruh bandingin rasanya, kayaknya susah karena mereka punya karakteristik sendiri. Oke langsung aja ke tekape.

Ini gak bikin sendiri sih, tapi beli di warung yang namanya “Pical Sikai”. Mungkin sudah kondang dikalangan telinga wisatawan kota Bukittinggi pical ini karena sejak tahun xxxx lupa juga, ehehehe.

Komposisinya terdiri dari: daun singkong, kubis, rebung (batang bambu muda) dan jantung pisang yang direbus dan dibuang airnya. Lalu ada mie lebar yang biasanya dipake mie jawa, ada “katupek” atau bahasa Indonesianya ketupat (kadang diganti lontong) dan ditaburi keripik singkong plus kerupuk warna pink biasanya di rujak ndak tau namanya kerupuk apa.

Nantinya, kombinasi bahan tadi disiram dengan kuah kacang yang terdiri dari kacang tanah yang dihaluskan, ditambah cabe dan beberapa bumbu seperti garam dan lain sebagainya (padahal ndak tau isinya apa aja), yang jelas kuah kacang. Bisa dibayangin rasanya? kalau menurutku kuahnya sama kayak kuah gado-gado.

Kalau disuruh kasih nilai, mungkin 7 dan 10 poin. Maklum lidah jawa yang terbiasa manis, ketemu masakan gurih itu rasanya kayak kurang. Ini sifatnya subjektif lo ya…. Beda lidah mungkin beda kasih nilainya.

Buat kalian yang main ke Bukittinggi atau lebih tepatnya di Panorama Lobang Jepang, jangan lupa mampir kesini. Dijamin bakal ngerasain pengalaman lain daripada yang lain untuk urusan kuliner.

Aku sendiri bukan tipe orang yang bisa deskripsikan rasa sih, jadi gak begitu lihai kasih review. Iya, pinternya deskripsikan perasaan. Skip –

Nih penampakannya kalo penasaran:

Jpeg

 

Advertisements

Selamat malam syantik dimanapun kalian berada…

Woyoooo… udah mau akhir tahun nih, kalian udah ngrencanain liburan akhir tahun belom? kemana nih? kalau belum, ada referensi menarik nih dari catatan si pelupa stadium tiga koma lima.

Buat kalian yang mulai bosan dengan atmosfer Jawa dan pengen keluar dari zona nyaman, ada kota kecil yang yahud buat dikunjungi. Dimana itu? taraaaa….di Bukittinggi (pake suara doraemon)

Kenapa Bukittinggi? harus banget ya butuh alesan? okelah kujelasin. Jadi gini, Bukit tuh udah punya julukan sebagai kota wisata. Ada banyak destinasi yang bisa dikunjungi bahkan dengan berjalan kaki. Yaiyalah, kotanya aja cuma terdiri dari tiga kecamatan doang, gimana gak kecil coba.

Tapi layaknya cabe rawit, dia kecil tapi menggigit – apasih – Kota ini menyimpan banyak sekali kekayaan. Eitsss tunggu dulu. Gimana caranya biar bisa ke Bukit?

Ini yang sesuai dengan judul. Jadi kalau kalian dari BIM (Bandara Internasional Minangkabau) cukup dengan nitih travel. Kalo aku sih biasanya naik AWR. Salah satu travel agen yang menurutku pas dikantong, pas dihati. Kenapa gitu? pelayanannya enak, jelas dan yang pasti diantar sampai ke tempat tujuan.

Kalau dari BIM, bisa menghubungi nomor telepon (0751) 4851666 atau nomor hp 081-275-060030 nanti pas turun dari pesawat langsung aja ke kumpulan taksi-taksi dan bilang sama mereka kalau naik travel AWR. Nah, dari sana akan digiring sama salah satu sopir taksinya menuju pool yang deket sama bandara. Tenang aja, kita gak bayar taksinya kok karena satu paket dengan biaya travel nantinya. Setelah sampai di pool, petugas travel akan membayar ongkos taksi, menurunkan barang-barang kita dan mempersilahkan kita menunggu (jika mobil travelnya belum datang, sembari menunggu penumpang lainnya). Nanti kita membayar ongkos travelnya sebesar 65rb dan dibayar sebelum naik mobil travelnya.

Perjalanan dari BIM ke Bukittinggi kurleb 3 jam jika tidak ada macet. Biasanya macet terjadi saat akhir pekan dan titik-titiknya kemungkinan daerah pendakian menuju Padang Panjang dan Koto Baru. Selebihnya lancar jaya kok. Nanti sesampai di Bukit juga sama sopirnya bakal diantar sampai tempat tujuan. Alhamdulillah meskipun menumpang satu atau dua biji akan tetap diantar tepat pada waktu keberangkatan. Jadi profesional bisa dikatakan.

Sudah beberapa kali saya pulang dan balik lagi kesini selalu dengan travel ini (ada 1x gak naik ini karena alasan tertentu, kelak bakal ta ceritain kisah memilukan). Alhamdulillah aman dan nyaman.

Sekian curhatan efek pengen pulang. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di tulisan lainnya.
Salam rindu untuk seseorang di seberang pulau. Semoga segera ketemu untuk melepas rindu – tsaaaahhhh

Alhamdulillah, akhirnya bulan ini bisa keluar kantor lagiiii….. Rasanya seperti burung yang lepas dari sangkar, sangat menyenangkan (*loncat-loncat kegirangan). Tujuan dari perjalanan kita (baca: aku dan rombongan) kali ini adalah menuju Pariaman. Oke, ini memang bukan kali pertama kunjunganku kesana, tak ada cerita pantai, tetapi kali ini aku ingin menceritakan suatu daerah yang kita lewati menuju Pariaman itu sendiri yaitu MALALAK.

Malalak merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Agam. Bisa dibilang tempatnya pelosok karena memang jauh dari keramaian. Jika kita membaca kata “pelosok” maka yang akan terbayang di benak kita yaitu sebuah tempat dengan akses yang sulit, jalan terjal, naik turun dan berkelok. Belum lagi jika hujan, maka banjir akan menjadi kendala perjalanan. Tapi semua itu jauh diluar bayangan kita. Di sana, di Malalak, aksesnya sangat bagus. Jalannya mulus dan lebar, yah sekalipun memang benar berkelok dan naik turun. Tapi itu tak menjadi soal karena tak banyak orang yang melintasi jalan ini. Jadi bebas dari kata macet. Jalan ini juga merupakan jalur alternatif dari Kota Padang menuju Kota Bukittinggi. Biasanya para sopir travel melewati jalan ini jika mengantarkan penumpang dari BIM (Bandara Internasional Minangkabau) ke Bukittinggi jika tidak ada yang turun di Kota Padangpanjang.

Sepulang dari acara kantor, kami serombongan menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di Kadai yang ada di pinggir jalan. Dengan suguhan lukisan hidup yang maha keren, kami menikmati istirahat sementara ini. ada hamparan sawah di bawah, pegunungan yang menjulang dengan bumbu air terjun, benar-benar hanya bisa mengucap SUBHANALLAH kala itu. Berikut beberapa gambar yang berhasil saya abadikan. (Kalau hasilnya kurang bagus ya maap, gak ada bakat fotografi sih. Kalo masih penasaran sepertinya tak ada pilihan lain selain berkunjung sendiri kesana 🙂 toh dijamin gak bakal rugi karena hasil potret terbaik adalah melalui mata kita langsung hehe).

IMG_9041

Panorama Malalak. Gugusan pegunungan, hutan rimba dengan sentuhan air terjun 😍 lukisan hidup

A post shared by Zulfa Ulinnuha (@ulinzulfa) on

Paris

Posted: December 4, 2015 in Wisata

Apa yang akan terbesit di pikiran kita jika mendengar kata PARIS? Menara Eiffel kah? atau kepikiran buat shopping karena pusat mode-nya?

Tapiiii…. disini bukan itu yang kumaksud. Paris itu adalah singkatan, Pariaman dan Sekitarnya. hahaha….

Siapa sih yang gak mengenal Pariaman? tempatnya yang waow… penuh dengan pesona. Salah satu destinasi wisata jika berkunjung ke Provinsi Sumatera Barat.

Disini aku mau cerita perjalanan dinasku kesana. Dari Bukittinggi, kita melewati Malalak, nama sebuah kecamatan di Kab. Agam. Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhkan dengan pemandangan vegetasi hijau khas sana, hutan masih virgin sepertinya. Benar-benar indah. Lalu ada lagi gunung batu, ah gak sempat kufoto saking terpesonanya mata ini. Buat yang penasaran langsung saja gugling dengan keyword “Pamandangan Malalak Sumatera Barat” ya… hehehe. Lalu ada lagi hamparan sawah, ini kuambilkan foto dari suiternya wisatasumbar

BNqDTuHCMAIzeNT.jpg large

Jadi itu jalan rayanya ada di atas, sawahnya ada di bawah. Rasanya bener-bener fresh…..

Nyampe di kantor ternyata acara udah dimulai. Malu banget kan rombongan datang telat. Padahal ada dari PTA udah daritadi disana. Selesai acara, kita makan-makan dan sebagai cuci mulutnya disediakan rambutan. FYI, rambutannya gak ada bedanya dengan rambutan di Jawa (catet!).

Setelah itu kita mampir dulu ke tiga pantai. Pertama, Pantai Kata. Kalau di Bali ada Kuta kalau di Paris namanya Kata wkwkwk. Ada-ada aja….. bedanya kalau di Kuta kita bakal nemu bule berjemur tapi kalau disini kita nemunya pasir dijemur hahaha

Tujuan kedua yaitu Pantai Cermin. Di pantai ini masih tahap pembangunan untuk pejalan kaki, (pasang paving blok gitu). Pasirnya campuran putih dan hitam, ombaknya sedang dan airnya kecoklatan. Entah aku gak tau mungkin karena ada kandungan lumpurnya.

Nah, yang ketiga adalah pantai yang sangat terkenal di kawasan Paris. Apalagi kalau bukan Pantai Gondariah…. yang terkenal dengan Festival Tabuik-nya.

12345994_743729732427525_895291129_n

Lumayan juga perpaduan langit biru dengan laut yang biru. Bener-bener subhanallah sekali.

Demikian perjalanan ke Paris. Untuk makanan khasnya pasti semua pada tau dengan SALA LAUAK-nya. Tapi berhubung saya gak suka rasanya jadi gak kuceritain hahaha.

Udah ah, semoga di lain waktu ada cerita di tempat yang baru 🙂